Tampilkan postingan dengan label Prestasi Siswa SMA Pintar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prestasi Siswa SMA Pintar. Tampilkan semua postingan

26 November 2009

SMA Pintar Kuansing Juara 1 dan 2 Lomba Penulisan Puisi dan Juara 3 Penulisan Cerpen Se-Riau yang Di Taja SMUN Plus Pekanbaru

. 26 November 2009
0 komentar

SELAMAT DAN SUKSES

DENGAN PRESTASI YANG DITERIMA

SISWA SMA PINTAR KUANSING

DALAM LOMBA PENULISAN PUISI DAN PENULISAN CERPEN SE-RIAU


KEPADA

ANTENG ISNANTO (KELAS XI IPA)

JUARA 1 PENULISAN PUISI SENI SASTRA SE-RIAU


RIZKA FAULINA (KELAS X)

JUARA 2 PENULISAN PUISI SENI SASTRA SE-RIAU


RIDHA REVELINA SYAFAR (KELAS XI IPA)

JUARA 3 PENULISAN CERPEN SENI SASTRA SE-RIAU


BERSYUKUR DENGAN NIKMAT YANG ALLAH SWT BERIKAN SEHINGGA SISWA SMA PINTAR KUANSING MERAIH PRESTASI DAN PENGHARGAAN SEPERTI DIBIDANG SENI SASTRA DAN SENI MUSIK BEBERAPA HARI YANG LALU.

SEMOGA APA YANG DIRAIH MENJADIKAN SMA PINTAR KUANSING UNGGUL DISEGALA BIDANG SESUAI DENGAN TEMA

PENDIDIKAN SAINS TEKNOLOGI DAN SENI MENJAMIN PEMBANGUNAN DAN MENINGKATKAN DAYA SAING BANGSA


BERIKUT INI KARYA-KARYA SISWA YANG MERAIH JUARA:




MELAYU MEMBANGUN

Karya: Anteng Isnanto

Siswa Kelas XI IPA SMA Pintar Kuansing

Meraih Juara 1 Lomba Penulisan Puisi Se-Riau yang di Taja SMUN Plus Pekanbaru

Tahun 2009


Ada senyum di negeri melayu

Saat kujejakkan langkah kakiku

Menyusuri sungai–sungai biru

Ada gemuruh tawa di tanah Hang Tuah

Saat kuikuti jalan yang berliku

Di antara pepohonan yang indah padu

Negeri kami sedang membangun

Di antara hiruk pikuk tuntutan

Negeri kami sedang mencari kesejahteraan

Di atas hitam putih permintaan

Ada harapan di negeriku

Saat kukayuh jalur membelah waktu

Menyusuri sungai – sungai biru

Tuan dan Puan sedang membangun

Menjadi tombak harapan

Wujudkan tuntutan kesejahteraan

Ada harapan di antara sisi jiwaku

Di antara hujan yang turun di hatiku

Tuan dan Puan jangan melamun

Ini saatnya melayu membangun


HITAM PUTIH

Karya: Rizka Faulina

Siswa Kelas X IPA SMA Pintar Kuansing

Meraih Juara 2 Lomba Penulisan Puisi Se-Riau yang di Taja SMUN Plus Pekanbaru

Tahun 2009

Awan kekar usapkan ketegangan

Berwarna pekat tunjukkan kejantanan

Mega hitam membalut Riauku

Buatku terseret dalam khayal sendiri

Awan pekat itu curahkan tangisnya

Hingga kami kehilangan…..

cair an itu larutkan semua mimpi

Mimpi indah akan negeri

Sekarang, kabut hitam menggunung

Sinar jingga terus membakar badan

Daun hijau berwarna hitam

pupus…”lantaklah” penderitaan

Riauku tercinta sudah tua

Tak mampu hindari lantang deraan bencana

Tak kuat sayap lalui lorong waktu menuju masa depan

Hingga yang tersisia hanya onggok impian belaka



ADAT PANTANG LARANG

Mengakhiri Kisahku Dengannya

Karya:Ridha Refelina Syafar

Siswa Kelas XI IPA SMA Pintar Kuansing

Meraih Juara 3 Lomba Penulisan Cerpen Se-Riau yang di Taja SMUN Plus Pekanbaru Tahun 2009

Pagi ini begitu mempesona. Terhirup udara segar yang menusuk diri untuk membuat hari-hariku ceria. Ku buka jendela kamar pagi ini. Suasana daerah pesisir pantai terlihat sebagai sebuah panorama yang takkan pernah terlupakan. Matahari muncul perlahan-lahan memamerkan kegagahannya, menghangatkan pelosok negeri kepulauan Riau. Dengan segera aku berlari, berlari menuju pantai unutk abadikan momen berhargaku agar dapat menyaksikan sang surya datang dengan ucapan selamat pagi. Meskipun hal ini telah berulang kali kulakukan sejak kecil, namun hal itulah yang menjadi kegemaranku dalam menyambut datangnya pagi.

“Keke, Keke! Kemana dia?”. Suara emak terdengar dari kejauhan. Aku rasa, emak masih tidak hapal juga, kalau setiap harinya aku memandangi pesisir pantai. Walaupun begitu, tanpa pikir panjang lagi aku segera menemui emak. “Ada apa, Mak? Kan Keke sudah bilang pada Emak, Keke main di pantai setiapa pagi. Emak tidak usah risau”, jawabku pada emak yang menyalakan tungku masak. “Keke..., sudah berapa kali emak bilang, rapikan dulu rumah. Kamar tidur keke saja berantakan! mau main pula…! Keke sudah remaja, tidak baik anak belia seperti kamu hanya indah di pelabuhan saja. Nanti tak dapat jodoh bagaimana?”, emak kembali melontarkan adat pantang larang negeri melayu. Aku tidak mengerti. Hatiku selalu berguman, apa hubungan antara kamar berantakan dengan tidak dapat jodoh. Aku rasa itu hanya mitos lama turunan nenek moyang akan adanya adat pantang larang itu. Aku pikir, emak hanya menakut-nakutiku saja agar aku segera merapikan dan membersihkan rumah. Yah, supaya enak dipandang mata. Kembali aku berkata, ”Emak! Selalu saja begitu. Apa tidak ada perkataan lain? Kalau benar aku tidak dapat jodoh bagaimana? Ini menjadi pertanggungjawaban Mak!”, gerutuku. “Makanya Keke, anak gadis harus rajin, Tidak semberono seperti kamu.” emak kembali menceramahiku. Aku pun menjawab, ”Ya, baiklah, Mak! Keke bereskan semuanya”.

Malam tiba tak kusapa, namun semakin larut semakin indah. Berhiaskan macam-macam rasi bintang yang menyinari malam yang kelam. Tak lupa pula, sinar bulan merangkak memunculkan diri, keluar dari peraduannya. Sendiriku ini teringat akan adanya bapak yang dulu selalu meminta bantuanku untuk pinggirkan perahu ke daratan. Tatapi, bayangan itu sirna seketika setelah kejadian badai besar melanda pesisir pantai. Bapak terbawa terjangan ombak dan gelombang. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya emak. Perasaan seperti itu, membuat aku selalu mengikuti perkataan emak. Karena, aku tidak ingin emak pergi dan meninggalkan aku sendirian.

Sang surya kembali muncul. Seperti biasa, aku berlari dan menghirup pagiku yang bernyawa. Tetapi, dari kejauhan aku melihat sebuah kapal sederhana berlabuh di hulu pantai. Aku segera menghampirinya. Tak beberapa lama kemudian, tampaklah seorang pemuda yang berparas sangat tampan. Aku terperangah sejenak. Lalu, lamunanku sirna setelah ia menyapaku.

“Mmm…. Maaf ada apa nona?”, sapanya ramah.

“Tidak….tidak apa–apa tuan. Tampaknya, tuan orang baru di sini, tidak biasanya, jadi saya sedikit heran “. Dia pun menjawab, ”benar, ayah saya pindah tugas ke sini. Saya baru dua hari di sini. Jadi, saya memutuskan untuk mengenali daerahnya dulu, supaya terbiasa. Oh iya, kami dari Jakartaa” akupun tertegun, “Begitu, ya? Maaf tuan, saya harus pergi, takut emak susah mncari saya di rumah, salam”. Akupun berlari menuju rumah.

Tampak emak yang sedang sibuk menyalakan tungku. Lagi-lagi dia berkata kalau anak gadis seperti aku harus membersihkan rumah baru boleh main, kalau tidak, nanti bisa-bisa tidak dapat jodoh. Selalu saja perkataan seperti itu yang dilontarkan padaku. Aku tidak mengerti adat pantang larang negeri melayu. Aku rasa, itu tidak ada hubungannya. Aku kembali memelas ucapan emak. Pagi berikutnya, kembali demikian. Gadis pesisir seperti aku selalu menjalani hari yang bergelut dengan desiran ombak. Karena, itu adalah satu-satunya permainanku.

Pemuda itu kembali lagi. Dia tampaknya menanti kedatangan seseorang. Aku tidak tahu, tetapi sesaat setelah dia melihatku, dia menghampiriku. Dengan agresif dia ingin aku mengajaknya untuk berkeliling pantai dan bermain bersama. Aku tidak punyan pilihan lain selain mengiakan ajakannya itu. Akupun tidak mengerti mengapa aku sangat akrab sekali dengannya. Terasa seperti sudah lama mengenalnya.Tidak sedikit pun terasa canggung berhadapan dengannya. Kami berlari, bernyanyi, dan membuat kastil pasir hingga petang. Rasanya sangat puas. Momen ini tidak akan pernah kulupakan untuk selamanya. Aku sangat senang akan kedatangannya. Hari-hariku terisi penuh warna cemerlang seperti pelangi di hulu pesisir pantai. Aku sangat bahagia mendengar dia mengucapkan, “Negerimu sangat indah, bukan karena hal lain, tetapi karena ada gadis belia yang setia menemaniku di pantai ini. Aku menyukai kepulauan Riau.” Perkataan itu membuatku hatiku berbunga-bunga. Malam itu, tidurku terasa sangat nyenyak.

Entah mengapa, hari ini hatiku tegang menanti kedatangannya kembali. Kuingin hari itu terulang lagi. Terulang untuk yang kedua kalinya. Tetapi, setelah berjam-jam hingga petang, ia tidak kunjung datang. Hatiku bergumam, “Secepat itukah dia melupakanku?”. Hari-hari berikutnya masih saja sama. Dia juga tidak ada. Aku menunggu dengan gelisah. Aku bertanya kepada semua nelayan, tetapi, mereka tidak mengenalinya. Aku bahkan juga tidak tahu siapa nama pemuda itu. Pemuda yang membuat hari itu penuh angan-angan. Aku menyesal harus bertemu dan berpisah dengan cara seperti ini. Dia bahkan tidak berpamitan dulu padaku, tidak mengabariku, aku jadi semakin benci. Kembali kuteringat, “Apa karena adanya adat pantang larang itu? Sehingga ia tidak ditakdirkan untukku! Jikalau semuanya benar, pasti aku akan menuruti semua perkataan emak untuk membersihkan rumah dan kamarku dengan rajin”. Aku semakin bingung dan tidak mengerti apa arti semua ini.

Semenjak kejadian itu, aku menjadi tidak peduli jika teman-temanku menertawai ceritaku akan akibat adat pantang larang itu. Aku hanya ingin emat tidak mengomel lagi setiap pagi. Dan aku bisa bermain setelah aku membereskan semuanya. Dengan begitu, secara otomatis aku mematuhi adat pantang larang negeriku, melayu. Walau sebenarnya aku tidak yakin.


Admin/Humas SMA Pintar Kuansing

READ MORE - SMA Pintar Kuansing Juara 1 dan 2 Lomba Penulisan Puisi dan Juara 3 Penulisan Cerpen Se-Riau yang Di Taja SMUN Plus Pekanbaru Read More »»

24 November 2009

Di Ajang Why Not Festival 2009 Grup Band G-Nuse Part II Meraih Bass Terbaik dan Favorite Se-Riau

. 24 November 2009
0 komentar

Why Not Music Festival 2009

WYH NOT MUSIC ESTIVAL 2009 G-NUSE PART II SMA PINTAR3

WYH NOT MUSIC ESTIVAL 2009 G-NUSE PART II SMA PINTAR8

WYH NOT MUSIC ESTIVAL 2009 G-NUSE PART II SMA PINTAR5

Dokumentasi Poto Grup Band G-Nuse Part II dengan pelatih/pembina,pendukung dan penerimaan Pemain Bass Terbaik se-Riau

Teluk Kuantan, Minggu 22 November 2009, Why Not Music Festival 2009 menyelenggarakan festival musik band se -Riau. Dengan mengusung tema Music Brings Clarity.

Di ikuti 31 grup band yang berada di Riau seperti Pekanbaru, Rengat, Dumai, Kuansing ini sangat menghentak dan meriah. Apalagi didukung sound dan lighting yang mendukung serta menambah riuhnya suasana gedung kesenian narosa Kuansing.

Acara yang mengedepankan makna dari kreatifitas anak muda yang mengarah kegiatan berorientasi kreatifitas dan aktifitas anak muda, akan berdampak positif berkurangnya kenakalan dan penggunaan narkoba yang pada umumnya dikonsumsi anak muda sekarang.

Hal ini disampaikan oleh Kapolsek kecamatan Kuantan Tengah bahwa anak muda saat ini perlu banyak mengisi kegiatan yang baik dan terarah seperti acara yang dilaksanakan pada festival musik ini.

Dimulai pada jam 10.00 WIB, grup band G-Nuse Part II dari Kuansing mengusung lagu Bring Me To Life dan Lomak di Urang Ka Tuju Pulo di Awak salah satu seni musik budaya Kuansing yang diaransemen kembali dalam bentuk dan style lagu yang berbeda. Sungguh menarik lagu tradisi digarap dengan kreatif oleh grup Band yang berasal dari SMA Pintar Kuansing.

Alhamdulillah yang terucap dari grup band G-Nuse Part II dan semangat dengan hasil yang diterima dari dewan juri. Dengan meraih Bass Terbaik dan Favorit se-Riau yang diterima G-Nuse Part II ini sungguh memberikan kebahagiaan dan arti yang sangat luar biasa. Adapun personil grup band G-Nuse Part II: Aisyah Mayang Wulan sebagai Vokalis 1, Nefi Fitriana sebagai vokalis 2, Nolly Okta Pramika Vokalis Raper, Anteng Isnanto sebagai gitaris 1, Darwan Suganda sebagai gitaris 2, ALfajri yang meraih basis terbaik se-Riau, M. Ari Sandi sebagai keyboardis, dan penabuh drum Eka Ardila Pandi serta pembina Ronaldo Rozalino S.Sn yang juga sebagai pelatih grup band ini. Dengan prestasi seni musik yang diperoleh terbukti siswa SMA Pintar mampu menunjukkan eksistensinya didepan publik dan masyarakat Kuansing. Semoga apa yang diraih bisa membawa kebaikan dan keberkahan bagi SMA Pintar Kuansing.

Untuk Juara 1 dari Why Not Music Festival 2009 grup band Tirani berasal dari Pekanbaru, Juara 2 grup band Indigo dari Pekanbaru, Juara 3 D'Gitaz dari Kuantan Singingi. Selamat dan Sukses yang telah meraih juara dan terbaik di Ajang Why Not Music Festival 2009 yang taja oleh Rumah Kreatifitas Why Not dengan sponsor Neo Mild, Indosat, Indie Clothing CO, roemah nenek studio. Acara ini berakhir jam 9 malam berakhir dengan suskes dan penuh ke akraban antar grup band. Salam Kreatifitas Musik buat Generasi Muda yang kreatif tanpa narkoba.

Sumber:www.ronaldorozalino.com

READ MORE - Di Ajang Why Not Festival 2009 Grup Band G-Nuse Part II Meraih Bass Terbaik dan Favorite Se-Riau Read More »»

Saran Kritik Anda Sangat Di Harapkan