06 Desember 2009

Ujian Nasional Bukan Monster Ungkap Menteri Pendidikan Nasional

. 06 Desember 2009

Banyak siswa dan orangtua yang begitu paranoid alias ketakutan berlebihan terhadap ujian nasional (UN). Padahal menurut Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Dr Muhammad Nuh DEA, ujian nasional bukanlah sesangar yang dipikirkan.

Menurutnya, UN sama saja dengan ujian-ujian lainnya yang sering dilakukan di sekolah. Bedanya sekarang, skalanya saja yang berbeda yakni secara nasional.
‘’Ujian Nasional itu bukanlah monster. UN sesuatu yang biasa saja. Kalau ada belajar, ya ada ujian. Cuma sekarang skalanya nasional,’’ ujar kepada sejumlah wartawan usai pembukaan Silahturahmi Kerja Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Riau, Sabtu (5/12) di Hotel Pangeran.
Muhammad Nuh mengatakan, yang paling penting ditumbuhkan dalam menghadapi UN adalah self confidence atau kepercayaan diri anak murid. ‘’Jadi walaupun UN tersebut dikawal pihak kepolisian, hal ini tak menjadi masalah jika anak tersebut percaya diri,’’ tambahnya.


Menurutnya, UN sudah ada sejak zaman Belanda dahulu. Dan sangat sulit dihapuskan, kecuali jika sudah kiamat. Hal ini penting, tambahnya sebagai wacana untuk meningkatkan kemampuan diri. Ia membandingkan jika tak berani menghadapi ujian di tingkat nasional, bagaimana mungkin berkiprah di kancah pada internasional. Ia membandingkan bagaimana mengukur kemampuan diri, jika tak ada lagi UN.
‘’UN tetap akan dilaksanakan. Untuk itu kepada pemerintah daerah agar menyiapkan segala sesuatunya. Boleh saja mempunyai target belajar 90 persen. Tapi jangan jadikan UN sebagai eksperimen kecurangan di lapangan,’’ tegasnya.


Tak Semata UN
Dalam kesempatan, M Nuh juga mengisyaratkan adanya penilaian yang berbeda untuk menentukan kelulusan siswa. Dia meminta siswa tetap mempersiapkan diri untuk menghadapi UN, dan tak resah karena kelulusan tak hanya dari UN saja. Namun pelaksanaan UN yang jujur dan bersih merupakan cermin potensi yang harus ditegakkan. Selain lulus UN, Muhammad Nuh mengatakan terdapat tiga parameter lainnya yang akan menentukan kelulusan seorang siswa yakni telah menyelesaikan seluruh programnya, dinyatakan lulus terkait moral oleh guru dan lulus ujian sekolah itu sendiri.


‘’Jika keempat ini lulus, maka luluslah siswa tersebut. Namun jika yang lulus hanya UN saja, sedangkan yang lain tidak lulus, maka kemungkinan besar tak luluslah murid tersebut. Keempat ini saling mengikat satu dengan yang lainnya,’’ jelasnya.
Ia juga mengharapkan kepada media untuk tidak membawa para pelajar ke wilayah yang tidak pasti. Dikarenakan sekali lagi, ia mengatakan bahwa UN tersebut merupakan sesuatu yang biasa saja. Tak ada sesuatu yang luar biasa. Untuk itu dia meminta ini tak diperdebatkan terlalu panjang.


‘’Ujian itu hal yang biasa saja. Kalau mau bagus, ya ujian di tingkat kecamatan. Mau bagus lagi di tingkat kabupaten. Dan yang lebih bagus lagi tentu kalau ada standar nasional. Jadi biasa saja,’’ ujarnya.
Dalam kunjungan kerjanya, Mendiknas mengungunjungi sekolah-sekolah yang terdapat di Pekanbaru seperti SLB Sri Mujinab, SMKN 1 Pekanbaru, Sekolah Yayasan Masmur, Universitas Riau dan pada hari ini Ahad (6/12) dijadwalkan akan mengunjungi Politeknik Caltex Riau (PCR).
Dalam kunjungannya ke SMKN 1 Pekanbaru pun, Mendiknas tak bosan-bosannya mengkampanyekan tentang pentingnya UN tersebut. Bahkan beberapa kali Mendiknas menpertanyakan kesiapan siswa/i SMKN 1 Pekanbaru tersebut dalam menghadapi UN. Pertanyaan Mendiknas tersebut langsung dijawab puluhan murid bahwa mereka siap dalam menghadapi UN.
Turut serta dalam rombongan tersebut, anggota DPD RI dari Riau, Maimanah Umar. Legislator yang membidangi komisi III yang termasuk di dalamnya bidang pendidikan mengatakan, keikutsertaannya tersebut untuk menagih janji Mendiknas nantinya. ‘’Nantinya saya yang diharapkan akan menagih janji Mendiknas yang diucapkan selama di Riau,’’ ucapnya.


Kunjungi Sekolah Terjelek
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh dalam kunjungannya ke Riau mengatakan akan mengunjungi sekolah yang terjelek, Sabtu (5/12) kemarin dalam pembukaan silahturahmi kerja wilayah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Orwil Riau. Tujuannya tak lain untuk memotivasi para guru yang ikhlas dalam mencerdaskan bangsa. Pasalnya, menurutnya yang paling terutama adalah pembangunan mindset atau pola pikir. ‘’Pembangunan yang paling tepat saat ini adalah pembangunan mindset atau pola pikir. Bukan hanya pada pembangunan fisik saja. Fisik memang diperlukan. Namun yang terutama adalah bagaimana membangun supaya pola pikir anak didik ini. Jadi jalan yang lurus tak hanya jalan saja yang diaspal,’’ ujarnya.


Muhammad Nuh menerangkan terdapat lima pilar pola pikir yakni berdasar pengetahuan, sintesis, kreatif, saling menghargai, dan etik. Dengan runtun, dia menerangkan bahwa pola pikir disiplin keilmuan merupakan pola pikir berdasarkan disiplin ilmu. Sedangkan pola pikir sintesis merupakan pola pikir yang mensintesiskan ragam ilmu pengetahuan. ‘’Jadi jangan hanya melihat suatu permasalahan dari satu disiplin ilmu saja. Melainkan secara keseluruhan,’’ terangnya.
Sedangkan pola pikir yang ketiga yakni pola pikir kreatif. Menurutnya, kadang kala manusia perlu keluar dari kotak dan berani mengambil resiko. Sedangkan pola pikir yang terakhir yakni pola pikir saling menghargai. Muhammad Nuh mengatakan setiap perbedaan tak mungkin dihilangkan. Dan langkah antisipasi agar tidak terlalu terjebak dalam perbedaan adalah saling menghargai.


Muhammad Nuh mengatakan pendidikan di Riau sudah dalam tahap yang menggembirakan. Kendati demikian pihaknya berharap agar tak berhenti sampai di situ saja. Melainkan semakin ditingkatkan ke depannya.
Beasiswa bagi 20 Ribu Lulusan SMA Sederajat


Selain hal di atas, Mendiknas juga mengatakan akan memberikan beasiswa bagi 20 ribu lulusan SMA sederajat, yang mempunyai kemampuan namun secara finansial tergolong lemah untuk masuk ke perguruan tinggi pada tahun ajaran 2010/2011. Pihaknya akan berkoordinasi dengan para rektor perguruan tinggi negeri untuk mau menerima alumni SMA tersebut. ‘’Dengan demikian tak ada lagi alasan, alumni SMA tersebut untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke level yang lebih tinggi.’’ harapnya.
Hal tersebut merupakan salah satu program dari 100 hari Mendiknas. Selain itu terdapat beberapa hal lainnya yang terutama yakni merampungkan sambungan internet di 17.500 SD dan SMP/Sederajat yang terdapat di Indonesia. Kemudian sebanyak 30 ribu kepala sekolah dan pengawas di Indonesia juga akan diangkat kemampuannya. ‘’Masih banyak lagi programnya selain hal-hal pokok lainnya,’’ tutupnya.

Sumber:www.riaupos.com

0 komentar:

Posting Komentar

Saran Kritik Anda Sangat Di Harapkan